Dr. Phil Erari dan Dr. Benny Giay soal issu adanya gejala genosida. Mereka sering menyinggung bahwa ada upaya secara sistematis Indonesia berusaha melakukan proses genosida dan ecosida sekaligus yang sangat menyeramkan. Itu berarti pembunuhan etnis Papua sebagaimana dilakukan orang-orang bekas narapidana yang datang dari Inggris kini menguasai benua Australia. Suku Asli (Aborigin) kini hanya dijadikan sebagai museum hidup karena proses pemusnahan etnis Suku itu dilakukan orang-orang Anglo-Saxons. Gejala demikian banyak dikatakan para pemuka inteletual Papua sedang dipraktekken oleh kebijakan negara yang tidak seimbang dengan perjanjian Otsus yang ditetapkannya sendiri oleh pemerintah Indonesia. Upaya demikian bukan kebijakan negara namun aparat pelaksana kebijakan di lapangan yang sudah kehilangan akal untuk meredam dan mengatasi hasrat keinginan rakyat Papua mau merdeka bisa saja terjadi dan dibiarkan berlangsung upaya meredam habis rakyat Papua agar tidak lagi menuntut hak dan keadilan kedaulatannya. Jika demikian provokasinya para pemuka Papua selama ini, maka sudah barang tentu masalahnya bukan hanya menyakut harga diri bangsa Papua untuk mempertahankan hak kedaulatannya saja akan tetapi juga ada hal lain yang lebih hakiki dan mendasar yakni hak bereksistensi diri didunia habitatnya.
Harapan semua orang dengan Otsus Papua konflik bisa selesai, minimal menimalisir potensi-potensi konflik separatisme sebagaimana penyelesaian konflik sama di Nagri Aceh Darussalam (NAD). Demikian juga harapannya dengan Papua bahwa dengan Otsus, maka konflik separatisme bisa diselesaaikan maka banyak uang dikucurkan didaerah itu, ternyata meleset, malah sebaliknya, intentitas kegiatan separatisme cukup tinggi dirasakan sepanjang pelaksanaan Pemilu tahun 2009 ini. Semua aksi-aksi secara sporadis tapi terorganisir oleh TPN/OPM akhir-akhir ini menunjukkan separatisme disana tidak pernah bisa padam, sekalipun dengan banyak uang dialirkan oleh pusat kesana, terbukti Otsus Papua memang bukan solusi. Ada anggapan bahwa mentalitas orang Papua adalah mentalilitas konsumerisme yang berarti cukup diberi banyak uang agar diam dan kenyang. Untuk itu –dan wajar mengingat konrtibusi Papua cukup tinggi dalam membayar pajak negara, misalnya menyebut satu, PT Freeport saja –pemerintah pusat banyak mengucurkan uang dan menganggap itu sudah cukup. Tanpa memikirkan solusi lain dan tidak secara serius atau tidak ada kemauan baik mentuntaskan konflik Papua secara konprehenshif sekaligus. Sebagai akibatnya bisa di tebak bahwa dana trilyunan yang dikucurkan pemerintah pusat tidak menghalangi perjuangan Merdeka rakyat Papua untuk berdaulat penuh, malah anasir-nasir separatisme tetap muncul kembali.
3। Harapan
1. Sejak terpilih menjadi Presiden RI tahun 2004 silam, SBY datang ke Papua dalam program 100 hari dan melakukan hal-hal menadasar yang itu cukup memberi arti besar bagi kesejahteraan rakyat Papua dan Papua Barat. Adalah komitmen besar SBY terhadap penyelesaian kasus Papua. Pertama, Pengesahan Majelis Rakyat Papua (MRP) pada bulan Desember tahun 2004 dengan PP 54, yang selama tiga tahun terbengkalai, sebagai hadiah
an nalik mban ap inawi logonet'niniki nggok mban konikin nauluk, kame lombok me logomungun logorak ngok me. logu oo...?
Rabu, 11 Agustus 2010
Dari sinilah pada mulanya konflik berkepanjangan dan berketerusan sehingga melahirkan banyak korban di pihak rakyat Papua. Banyak pemuka Papua merasa, dan itu akhir-akhir ini, ada upaya lain Indonesia (mungkin lebih tepat mereka maksudkan Militer Indonesia) melakukan suatu tindakan pembiaran dan sengaja terjadinya proses genosida (punahisasi) etnis Papua baik itu terselubung melalui HIV/AIDS, alcohol, KB, transmigmigrasi maupun secara terencana melalui Otsus Papua banyak mendatangkan militer organik dan non organik ke wilayah Papua. Sehingga ada konfrontasi bersenjata antara rakyat yang mempersenjatai diri dengan senjata tradisional dengan senjata organic di pihak militer Indonesia.(Sendius Wonda, Tenggelamnya Ras Melanesia, Penerbit : Deiyei, Jogja, 2008).
2. Otsus Papua dan Permasalahannya
Otsus Papua dituangkan dalam UU No 21/2001, yang merupakan hasil proses pembahasan yang panjang di DPR, dan disepakati pemerintah. Namun sejumlah kalangan tidak percaya Otsus Papua dan itu terutama kalangan intelektual Papua yang berada di universitas. TPN/OPM di rimba raya Papua juga tak henti-hentinya terus berkonfrontasi dengan TNI/POLRI, dan para pejuang kemerdekaan Papua di pengasingan menggangap bahwa Otsus Papua bukan solusi. Jargon TPN/OPM di rimba raya Papua dan dipengansingan sudah jelas, bagi mereka, Papua Merdeka, harga mati! sebagaimana NKRI, harga mati! bagi TNI/POLRI. Pada selama ini kedua pihak seteru selalu mengganggu aktivitas pembangunan di Papua selam puluhan tahun belakangan ini terutama sejak tahun 1998 dan tahun 2001 desakan hasrat melepaskan diri sangat tinggi dirasakan hingga UU kebijakan Otonomi Khusus No. 21 tahun 1999 dan UU Perimbangan Keuangan No. 25 di kelurkan oleh Pemerintah Pusat. Namun ini bukannya menghentikan hasrat rakyat Papua menghentikan aktifitas gerilya untuk melepaskan diri, malah akhir-akhir ini eskalasinya cukup tinggi terutama menjelang Pemilu tahun 2009.
Dan harus diingat bahwa TPN/OPM di rimba raya tidak pernah dilibatkan dalam penerimaan Otsus Papua oleh pemerintah Pusat. Sebelum ini yang terlibat menerima Otsus Papua terlihat hanya Presedium Dewan Papua (PDP) dengan syarat, pelurusan sejarah dan tawaran dialog, yang kesemuanya itu tidak pernah ditaati pemerintah pusat. Karena itu wajar akibatnya sejumlah kalangan intelektual Papua yang berada di universiatas tidak percaya pada Otsus Papua. Mereka minta dialog antara Jakarta-Papua dan itu harus dimediasi oleh pihak lain sebagai penengah. Keinginan dialog secara gentelmant ini selalu ditolak Jakarta. Malah sebaliknya pemerintah Indonesia berkompromi dengan TPN/OPM buatan militer Indonesia yang berada di kota, walau harus diakui bahwa kelompok kompromistis, juga punya potensi menjadi TPN/OPM “benaran”, jika keinginan berkuasa tidak diperoleh apalagi tidak di jatah jabatan oleh pusat.
Sejak Otsus diterima dengan syarat oleh Presedium Dewan Papua (PDP), maka banyak orang menduga bahwa persoalan Papua akan selesai dan separatisme bisa diredam. Tapi orang lupa bahwa seni dan budaya adalah menyangkut hak bereksistensi yang terkait langsung dengan harkat dan martabat kemanusiaan manusia. Untuk itu dalam UU Otsus No. 21. Tahun 1999 point C disebutkan : “bahwa penduduk asli di Provinsi Papua adalah salah satu rumpun dari ras Melanesia yang merupakan bagian dari suku-suku bangsa di Indonesia, yang memiliki keragaman kebudayaan, sejarah, adat istiadat, dan bahasa sendiri”. Kemudian UU Otsus Bab II tentang lambang-lamabang dalam pasala 2 ayat 2 menyebutkan bahwa : “Provinsi Papua dapat memiliki lambang daerah sebagai panji kebesaran dan simbol kultural bagi kemegahan jati diri orang Papua dalam bentuk bendera daerah dan lagu daerah yang tidak diposisikan sebagai simbol kedaulatan”. Tapi itu dikhianati oleh pemerintah Pusat dan itu hanya bisa dimengerti oleh Presiden Gus-Dur yang tidak di pahami Presiden Megawati Soekarno Putri, apalagi lebih tidak dimengerti oleh aparat militer Indonesia di Papua. Dan memang ada sesuatu yang benar, jadi baik, dari Gus-Dur dianggap salah oleh Mega sehingga kelihatan kurang cerdas dan itu berlanjut masa pemerintahan SBY-JK terus dibiarkan, misalnya MRP di Pasung, simbol-simbol cultural yang di zaman Gus-Dur di bolehkan orang Papua memaikainya sekarang ini dianggap subversip sehingga ada pasal-pasal karet terorisme, yang siap membungkam atau dengan alasan teroris kapan saja aparat militer Indonesia menangkap, menyiksa, menembak dan bahkan boleh memukul orang Papua sampai mati di penjara. Demikian ketua PDP, Dortheys Hiyo Eluay, mengalami nasib buruk martir ditangan aparat militer Maribuana Angkatan Laut 10 Hamadi Jayapura Papua dan sopirnya sampai hari ini belum pernah diketahui ada dimana, hilang begitu saja tanpa jejak dan pesan kalau dimakamkan dimana dan oleh siapa kita semua tidak pernah tahu adalah warisan Presiden Megawati yang sangat buruk bagi orang Papua. Tapi hal demikian dibiarkan terjadi sepanjang pemerintahan SBY-JK. Dan itu banyak dialami mahasiswa dan tokoh-tokoh HAM Papua. Demikian ini terus menyisakan luka mendalam bagi beberapa kalangan rakyat Papua.
Kebijakan pemerintah Indonesia terhadap rakyat Papua selain Gus-Dur, semuanya terkesan punya orientasi mengekang kebebasan ekspresi seni dan budaya orang Papua. Itu sekedar menyebut beberapa contoh inkonsistensi pemerintah pusat selama Otsus Papua berjalan tidaka ada kemauan baik politik untuk secara konsisten Otsus bisa berjalan baik misalnya UU Otsus BAB XII tentang HAM Pasal 46 yang didalamnya mnyebutkan bahwa : “Dalam rangka pemantapan persatuan dan kesatuan bangsa di Provinsi Papua dibentuk Komisi Kebenaran dan rekonsiliasi”. Yang tugasnya : (a). “ melakukan klarifikasi sejarah Papua untuk pemantapan persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan (b). “merumuskan dan menetapkan langkah-langkah rekonsiliasi”. Tapi itu semua selama 10 tahun terkahir Otsus berlakukan di Tanah Papua sama sekali tidak pernha dijalankan.
Anehnyaakhir-akhir dan itu sejak awal Otsus berjalan mulai terasa ada gejala baru dan lain bersamaan kebijakan Otsus berjalan ini ada dugaan kuat yang sering dikemukakan kalangan intelektual independent Papua misalnya Pendeta Dr. Socrates Sofyan Nyoman,
2. Otsus Papua dan Permasalahannya
Otsus Papua dituangkan dalam UU No 21/2001, yang merupakan hasil proses pembahasan yang panjang di DPR, dan disepakati pemerintah. Namun sejumlah kalangan tidak percaya Otsus Papua dan itu terutama kalangan intelektual Papua yang berada di universitas. TPN/OPM di rimba raya Papua juga tak henti-hentinya terus berkonfrontasi dengan TNI/POLRI, dan para pejuang kemerdekaan Papua di pengasingan menggangap bahwa Otsus Papua bukan solusi. Jargon TPN/OPM di rimba raya Papua dan dipengansingan sudah jelas, bagi mereka, Papua Merdeka, harga mati! sebagaimana NKRI, harga mati! bagi TNI/POLRI. Pada selama ini kedua pihak seteru selalu mengganggu aktivitas pembangunan di Papua selam puluhan tahun belakangan ini terutama sejak tahun 1998 dan tahun 2001 desakan hasrat melepaskan diri sangat tinggi dirasakan hingga UU kebijakan Otonomi Khusus No. 21 tahun 1999 dan UU Perimbangan Keuangan No. 25 di kelurkan oleh Pemerintah Pusat. Namun ini bukannya menghentikan hasrat rakyat Papua menghentikan aktifitas gerilya untuk melepaskan diri, malah akhir-akhir ini eskalasinya cukup tinggi terutama menjelang Pemilu tahun 2009.
Dan harus diingat bahwa TPN/OPM di rimba raya tidak pernah dilibatkan dalam penerimaan Otsus Papua oleh pemerintah Pusat. Sebelum ini yang terlibat menerima Otsus Papua terlihat hanya Presedium Dewan Papua (PDP) dengan syarat, pelurusan sejarah dan tawaran dialog, yang kesemuanya itu tidak pernah ditaati pemerintah pusat. Karena itu wajar akibatnya sejumlah kalangan intelektual Papua yang berada di universiatas tidak percaya pada Otsus Papua. Mereka minta dialog antara Jakarta-Papua dan itu harus dimediasi oleh pihak lain sebagai penengah. Keinginan dialog secara gentelmant ini selalu ditolak Jakarta. Malah sebaliknya pemerintah Indonesia berkompromi dengan TPN/OPM buatan militer Indonesia yang berada di kota, walau harus diakui bahwa kelompok kompromistis, juga punya potensi menjadi TPN/OPM “benaran”, jika keinginan berkuasa tidak diperoleh apalagi tidak di jatah jabatan oleh pusat.
Sejak Otsus diterima dengan syarat oleh Presedium Dewan Papua (PDP), maka banyak orang menduga bahwa persoalan Papua akan selesai dan separatisme bisa diredam. Tapi orang lupa bahwa seni dan budaya adalah menyangkut hak bereksistensi yang terkait langsung dengan harkat dan martabat kemanusiaan manusia. Untuk itu dalam UU Otsus No. 21. Tahun 1999 point C disebutkan : “bahwa penduduk asli di Provinsi Papua adalah salah satu rumpun dari ras Melanesia yang merupakan bagian dari suku-suku bangsa di Indonesia, yang memiliki keragaman kebudayaan, sejarah, adat istiadat, dan bahasa sendiri”. Kemudian UU Otsus Bab II tentang lambang-lamabang dalam pasala 2 ayat 2 menyebutkan bahwa : “Provinsi Papua dapat memiliki lambang daerah sebagai panji kebesaran dan simbol kultural bagi kemegahan jati diri orang Papua dalam bentuk bendera daerah dan lagu daerah yang tidak diposisikan sebagai simbol kedaulatan”. Tapi itu dikhianati oleh pemerintah Pusat dan itu hanya bisa dimengerti oleh Presiden Gus-Dur yang tidak di pahami Presiden Megawati Soekarno Putri, apalagi lebih tidak dimengerti oleh aparat militer Indonesia di Papua. Dan memang ada sesuatu yang benar, jadi baik, dari Gus-Dur dianggap salah oleh Mega sehingga kelihatan kurang cerdas dan itu berlanjut masa pemerintahan SBY-JK terus dibiarkan, misalnya MRP di Pasung, simbol-simbol cultural yang di zaman Gus-Dur di bolehkan orang Papua memaikainya sekarang ini dianggap subversip sehingga ada pasal-pasal karet terorisme, yang siap membungkam atau dengan alasan teroris kapan saja aparat militer Indonesia menangkap, menyiksa, menembak dan bahkan boleh memukul orang Papua sampai mati di penjara. Demikian ketua PDP, Dortheys Hiyo Eluay, mengalami nasib buruk martir ditangan aparat militer Maribuana Angkatan Laut 10 Hamadi Jayapura Papua dan sopirnya sampai hari ini belum pernah diketahui ada dimana, hilang begitu saja tanpa jejak dan pesan kalau dimakamkan dimana dan oleh siapa kita semua tidak pernah tahu adalah warisan Presiden Megawati yang sangat buruk bagi orang Papua. Tapi hal demikian dibiarkan terjadi sepanjang pemerintahan SBY-JK. Dan itu banyak dialami mahasiswa dan tokoh-tokoh HAM Papua. Demikian ini terus menyisakan luka mendalam bagi beberapa kalangan rakyat Papua.
Kebijakan pemerintah Indonesia terhadap rakyat Papua selain Gus-Dur, semuanya terkesan punya orientasi mengekang kebebasan ekspresi seni dan budaya orang Papua. Itu sekedar menyebut beberapa contoh inkonsistensi pemerintah pusat selama Otsus Papua berjalan tidaka ada kemauan baik politik untuk secara konsisten Otsus bisa berjalan baik misalnya UU Otsus BAB XII tentang HAM Pasal 46 yang didalamnya mnyebutkan bahwa : “Dalam rangka pemantapan persatuan dan kesatuan bangsa di Provinsi Papua dibentuk Komisi Kebenaran dan rekonsiliasi”. Yang tugasnya : (a). “ melakukan klarifikasi sejarah Papua untuk pemantapan persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan (b). “merumuskan dan menetapkan langkah-langkah rekonsiliasi”. Tapi itu semua selama 10 tahun terkahir Otsus berlakukan di Tanah Papua sama sekali tidak pernha dijalankan.
Anehnyaakhir-akhir dan itu sejak awal Otsus berjalan mulai terasa ada gejala baru dan lain bersamaan kebijakan Otsus berjalan ini ada dugaan kuat yang sering dikemukakan kalangan intelektual independent Papua misalnya Pendeta Dr. Socrates Sofyan Nyoman,
A. Integrasi dan Akar Masalah
Propinsi Papua dan Papua Barat sejak diintegrasikan dengan Indonesia melalui PEPERA tahun 1962 dan resmi disahkan oleh PBB tahun 1979. Anggapan umum kebanyakan Rakyat Papua selama ini bahwa Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) adalah rekayasa Soekarno dan John F Kennedy. Sebab Presiden pertama RI itu pada masa perang dingin condong ke Blok Timur. Amerika khawatir pada sikap politik Soekarno, maka Amerika yang ingin mendapatkan dukungan dari negara-negara Asia umumnya dan Asia Tenggara pada khususnya, maka tawarannya Papua dikorbankan kemudian “dititipkan” dulu untuk di kontrol oleh Soekarno dengan syarat sewaktu-waktu Papua menentukan nasibnya sendiri kelak dikemudian hari. Namun proses waktu dan pergantian Presiden RI dari Soekarno kepada Soeharto persoalan Papua menjadi kabur, di tambah lagi dengan adanya kontrak karya PT Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc, yang sudah lebih dulu masuk, persetujuan izin penambangan sudah lebih dulu ditandatangani pada tahun 1967, sebelum status Papua resmi ditetapkan di dewan PBB tahun 1979 bergabung dengan Indonesia. Kemudian Rakyat Papua selama 45 tahun integrasi (bagi rakyat Papua, aneksasi) dibungkam habis. Tidak boleh ada yang bicara lain selain persoalan Papua dianggap selesai final bagian tak terpisahkan dari Indonesia.
Namun pasca kejatuhan Presiden Soeharto pada bulan Mei 1998 dan bergulirnya era reformasi, seiring adanya jaminan kebebasan berbicara, rakyat Papua yang dibungkam lama mulai buka mulut dan berbicara menuntut memisahkan diri dari Indonesia. Diawali dengan dialog 100 tokoh Papua dengan Presiden BJ. Habibi pada tanggl 26 Februari 1999 di Istana Negara Jakarta dan puncaknya Kongres Papua ke II, yang didanai 1 Milyar oleh Presiden Gus-Dur. Kongres diadakan di Jayapura, tgl. 29 Mei s/d 4 Juni 2000, dan dihadiri ribuan orang diantaranya 501 peserta yang mempunyai hak suara. Kongres meminta perhatian atas empat kenyataan de facto: pertama, bahwa pada tahun 1961 Bangsa Papua sudah diberikan kedaulatan; kedua, bahwa Bangsa Papua tidak terwakili sewaktu New York Agreement ditetapkan pada tahun 1962; ketiga, bahwa Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) tahun 1969 bercacat hukum dan dilaksanakan disertai intimidasi dan penindasan; keempat, bahwa ada sejarah pelanggaran HAM selama 38 tahun terakhir ini yang tidak pernah ditangani secara hukum. Karena itu solusi penyelesaian kasus Papua belum pernah sanggup ditemukan titik temunya oleh kedua bela pihak berkonflik.
Namun pasca kejatuhan Presiden Soeharto pada bulan Mei 1998 dan bergulirnya era reformasi, seiring adanya jaminan kebebasan berbicara, rakyat Papua yang dibungkam lama mulai buka mulut dan berbicara menuntut memisahkan diri dari Indonesia. Diawali dengan dialog 100 tokoh Papua dengan Presiden BJ. Habibi pada tanggl 26 Februari 1999 di Istana Negara Jakarta dan puncaknya Kongres Papua ke II, yang didanai 1 Milyar oleh Presiden Gus-Dur. Kongres diadakan di Jayapura, tgl. 29 Mei s/d 4 Juni 2000, dan dihadiri ribuan orang diantaranya 501 peserta yang mempunyai hak suara. Kongres meminta perhatian atas empat kenyataan de facto: pertama, bahwa pada tahun 1961 Bangsa Papua sudah diberikan kedaulatan; kedua, bahwa Bangsa Papua tidak terwakili sewaktu New York Agreement ditetapkan pada tahun 1962; ketiga, bahwa Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) tahun 1969 bercacat hukum dan dilaksanakan disertai intimidasi dan penindasan; keempat, bahwa ada sejarah pelanggaran HAM selama 38 tahun terakhir ini yang tidak pernah ditangani secara hukum. Karena itu solusi penyelesaian kasus Papua belum pernah sanggup ditemukan titik temunya oleh kedua bela pihak berkonflik.
Sabtu, 07 Agustus 2010
Pendakian berawal dari kawasan yang dinamakan Zebra Wall. Dinamakan demikian karena di sini terdapat sebuah giant wall yang bermotif seperti kuda zebra. Lokasi inilah yang kerap digunakan oleh para pendaki untuk bermalam sebelum melanjutkan pendakiannya.
Tanjakan "Aduh Mama"
Esok harinya, perjalanan dilanjutkan menuju sebuah tempat yang dinamai Lembah Danau-Danau. Peralatan pribadi dan logistik yang diperkirakan cukup untuk menempuh perjalanan hingga ke Danau-Danau sudah kami panggul. Perjalanan ini membawa setiap pendaki ke kawasan yang disebut "Pintu Angin", berupa lorong panjang yang kerap menjadi celah berhembusnya angin.
Akan tetapi, bagian terberat dari perjalanan hari ini adalah sebuah tanjakan yang dinamakan "Aduh Mama". Namanya memang pas untuk menjelaskan tanjakan ini. Selain sangat curam dan sempit, melintasi tanjakan ini sangat menguras energi. Pokoknya, siapa saja yang melaluinya, pasti dan mengaduh memanggil-manggil mama-nya.
Lembah Danau-Danau yang Menawan
Lepas dari tanjakan yang melelahkan setelah sekitar 2 jam berjalan, sebuah lembah cantik terhampar luas di depan mata. Diapit oleh dua pcgunungan, yakni Puncak Sumantri dan Puncak Jaya, yang menjulang tinggi. Lembah yang berada di ketinggian 4.200 meter dari muka laut ini dihiasi dua danau mungil dengan warnanya yang berbeda pula yakni, hijau dan biru. Di sinilah biasanya para pendaki beristirahat sambil menikmati suasana alam yang menawan sebelum mencapai base camp yang telah ditentukan.
Letak Lembah Danau-Danau memang strategis. Dari sini, pendaki bisa dengan mudah ke puncak-puncak gunung di Papua yang akan didaki. Tak hanya itu, panorama alamnya yang cantik dan khas akan membuat siapapun enggan untuk segera meninggalkan tempat ini. Selain digunakan sebagai base camp, di sinilah para pendaki menjalani aklimatisasi atau penyesuaian iklim terakhir selama beberapa hari.
Pada hari yang telah ditentukan, pendakian ke Puncak Jaya dimulai. Climbing leader menetapkan waktu selama dua hari untuk menempuh pendakian ini. Menjelang sore, kami sampai di tujuan, sebuah cerukan gunung. Inilah yang kemudian menjadi shelter sementara sebelum ke Puncak Jaya. Salju yang turun sangat deras membuat suhu ikut drop, mencapai sekitar minus 2 sampai 5 derajat.
Keesokan paginya, kami berangkat ke Puncak Jaya. Setelah berjuang melintasi medan salju dan udara yang sangat dingin, puncak impian itu pun berhasil dicapai menjelang siang. Kegembiraan dan perasaan haru pun langsung menyelimuti suasana di dataran yang berupa padang es ini. Namun, kegembiraan ini harus segera berlalu karena climbing leader memutuskan untuk segera turun kembali.
Perjalanan turun ternyata tak semudah yang dikira. Sarung tangan dan kaos kaki yang basah, tiga kali jatuh terduduk menjadi "neraka" tersendiri. Untuk menghindari longsoran batu, kami pun memilih bergrak dengan cara merosot. Meski melelahkan, perjalanan selama 9 jam ini menjadi catatan tersendiri yakni, kami mampu "mengalahkan" diri sendiri.
Daratan Tertinggi di Nusantara
Selain Puncak Jaya. Papua juga memiliki Puncak Cartenz Pyramid. Puncak setinggi 4.884 meter ini banyak diincar pendaki lokal dan mancanegara karena dipercaya sebagai daratan tertinggi Indonesia dan bahkan di benua Asia-Australia.
Menggapai puncak Cartenz tentu saja bukanlah hal yang mudah. Medannya jauh lebih ekstrim dibanding medan di Puncak Jaya dan dibutuhkan skill serta teknik pendakian yang tinggi untuk mendakinya. Belum lagi badai salju, kabut serta angin kencang selalu mengintai para pendaki. Oleh karena itulah, tidak semua dari kami ikut serta saat mendaki ke puncak ini.
Tak terasa, pendakian di Pegunungan Papua ini harus berakhir. Puncak Jaya dan Cartenz yang melegenda itu telah berhasil digapai. Bagi saya, ini mungkin pendakian yang sangat berat, tapi bukanlah yang terakhir.
Penulis : Indah Permaihati
Sumber : Majalah Tamasya
Peta Lokasi :
Selain soto ayam dan tahu campur, makanan Lamongan yang terkenal adalah sego boranan. Penyajiannya mirip nasi sambal di Surabaya. Namun, wadah dan bahan sambalnya yang membuat makanan ini khas dan sulit ditemukan di tempat lain. Memasuki gerbang lengkung Kota Lamongan, tertulis slogan Lamongan Kota Soto. Soto ayam merupakan masakan khas daerah yang terletak di pantai utara Jawa Timur ini. Namun, jika menjelajahi kota tersebut, ragam makanan lainnya bakal Anda temukan.
Tanjakan "Aduh Mama"Esok harinya, perjalanan dilanjutkan menuju sebuah tempat yang dinamai Lembah Danau-Danau. Peralatan pribadi dan logistik yang diperkirakan cukup untuk menempuh perjalanan hingga ke Danau-Danau sudah kami panggul. Perjalanan ini membawa setiap pendaki ke kawasan yang disebut "Pintu Angin", berupa lorong panjang yang kerap menjadi celah berhembusnya angin.
Akan tetapi, bagian terberat dari perjalanan hari ini adalah sebuah tanjakan yang dinamakan "Aduh Mama". Namanya memang pas untuk menjelaskan tanjakan ini. Selain sangat curam dan sempit, melintasi tanjakan ini sangat menguras energi. Pokoknya, siapa saja yang melaluinya, pasti dan mengaduh memanggil-manggil mama-nya.
Lembah Danau-Danau yang MenawanLepas dari tanjakan yang melelahkan setelah sekitar 2 jam berjalan, sebuah lembah cantik terhampar luas di depan mata. Diapit oleh dua pcgunungan, yakni Puncak Sumantri dan Puncak Jaya, yang menjulang tinggi. Lembah yang berada di ketinggian 4.200 meter dari muka laut ini dihiasi dua danau mungil dengan warnanya yang berbeda pula yakni, hijau dan biru. Di sinilah biasanya para pendaki beristirahat sambil menikmati suasana alam yang menawan sebelum mencapai base camp yang telah ditentukan.
Letak Lembah Danau-Danau memang strategis. Dari sini, pendaki bisa dengan mudah ke puncak-puncak gunung di Papua yang akan didaki. Tak hanya itu, panorama alamnya yang cantik dan khas akan membuat siapapun enggan untuk segera meninggalkan tempat ini. Selain digunakan sebagai base camp, di sinilah para pendaki menjalani aklimatisasi atau penyesuaian iklim terakhir selama beberapa hari.
Pada hari yang telah ditentukan, pendakian ke Puncak Jaya dimulai. Climbing leader menetapkan waktu selama dua hari untuk menempuh pendakian ini. Menjelang sore, kami sampai di tujuan, sebuah cerukan gunung. Inilah yang kemudian menjadi shelter sementara sebelum ke Puncak Jaya. Salju yang turun sangat deras membuat suhu ikut drop, mencapai sekitar minus 2 sampai 5 derajat.
Keesokan paginya, kami berangkat ke Puncak Jaya. Setelah berjuang melintasi medan salju dan udara yang sangat dingin, puncak impian itu pun berhasil dicapai menjelang siang. Kegembiraan dan perasaan haru pun langsung menyelimuti suasana di dataran yang berupa padang es ini. Namun, kegembiraan ini harus segera berlalu karena climbing leader memutuskan untuk segera turun kembali.
Perjalanan turun ternyata tak semudah yang dikira. Sarung tangan dan kaos kaki yang basah, tiga kali jatuh terduduk menjadi "neraka" tersendiri. Untuk menghindari longsoran batu, kami pun memilih bergrak dengan cara merosot. Meski melelahkan, perjalanan selama 9 jam ini menjadi catatan tersendiri yakni, kami mampu "mengalahkan" diri sendiri.
Daratan Tertinggi di NusantaraSelain Puncak Jaya. Papua juga memiliki Puncak Cartenz Pyramid. Puncak setinggi 4.884 meter ini banyak diincar pendaki lokal dan mancanegara karena dipercaya sebagai daratan tertinggi Indonesia dan bahkan di benua Asia-Australia.
Menggapai puncak Cartenz tentu saja bukanlah hal yang mudah. Medannya jauh lebih ekstrim dibanding medan di Puncak Jaya dan dibutuhkan skill serta teknik pendakian yang tinggi untuk mendakinya. Belum lagi badai salju, kabut serta angin kencang selalu mengintai para pendaki. Oleh karena itulah, tidak semua dari kami ikut serta saat mendaki ke puncak ini.
Tak terasa, pendakian di Pegunungan Papua ini harus berakhir. Puncak Jaya dan Cartenz yang melegenda itu telah berhasil digapai. Bagi saya, ini mungkin pendakian yang sangat berat, tapi bukanlah yang terakhir.
Penulis : Indah Permaihati
Sumber : Majalah Tamasya
Peta Lokasi :
| Comments |
|
| ||||||
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Artikel Liburan Terbaru
Sego Boranan Ciri Khas Lamongan
Selain soto ayam dan tahu campur, makanan Lamongan yang terkenal adalah sego boranan. Penyajiannya mirip nasi sambal di Surabaya. Namun, wadah dan bahan sambalnya yang membuat makanan ini khas dan sulit ditemukan di tempat lain. Memasuki gerbang lengkung Kota Lamongan, tertulis slogan Lamongan Kota Soto. Soto ayam merupakan masakan khas daerah yang terletak di pantai utara Jawa Timur ini. Namun, jika menjelajahi kota tersebut, ragam makanan lainnya bakal Anda temukan.
| | |
Negeri penuh petualangan. Itulah ungkapan buta Papua. Tak hanya menawarkan pesona alam dan tantangan tersendiri, pulau raksasa di ujung timur Nusantara ini juga memiliki kawasan bersalju, layaknya di Eropa. Perjalanan ke Papua yang dilakukan oleh penulis, Indah Permaihati dan rekan-rekan, kali ini adalah perjalanan sekaligus pekerjaan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Bayangkan, di antara anggota tim, lima orang tidak pernah sekalipun mendaki gunung. Dan, sekalinya harus mendaki, harus ke gunung yang dikenal ganas di negeri ini. Logistik merupakan masalah tersendiri dalam perjalanan. Untuk perjalanan selama 2 minggu, berat perbekalan kami dari Jakarta, ditambah dengan yang dibeli dari Timika dan Tembagapura, sudah mencapai 1,2 ton. Untunglah, ada pihak yang membantu dan menyiapkan helikopter yang akan membawa sebagian logistik ini hingga ke base camp.Meski sebagian besar peserta trip ini bukanlah pendaki profesional, kami bisa merasa lega. Sebab tim ditemani para pendaki yang sudah berpengalaman, khususnya mendaki gunung salju di Papua. Salah seorang di antaranya adalah Ripto Mulyono yang telah mendaki lebih dari 20 kali.
Penentuan Prioritas Langkah
Untuk melakukan perbaikan terhadap ketiga aspek tadi, diperlukan pendekatan terlebih dahulu terhadap warga Gelap Nyawang secara personal. Jika kita ujug-ujug datang kemudian mengundang mereka pada pelatihan dan memperbaiki warung mereka, tidak ada yang bisa menjamin bahwa ke-bertahan-an apa yang telah diberikan pada mereka akan bertahan lama. Hal ini dikarenakan mereka belum memiliki rasa sense of belonging terhadap apa yang diberikan. Belum menemukan alasan mengapa pemberian itu harus dipertahankan dan dipelihara. Karena itulah perlu pendekatan agar tumbuh rasa itu pada diri mereka sehingga pemberian apapun yang akan diberikan akan dipelihara dengan baik.
Kita (staf Revitalisasi Gelap Nyawang) hanya bertindak sebagai katalisator, agar mereka sadar dan memiliki keinginan untuk memperbaiki warung mereka.
Seperti analogi Batman –yang sangat suka diceritakan oleh Pimpro– , Batman itu ada agar masyarakat Gotham juga ikut berani menumpas kejahatan bersamanya. Batman tidak mungkin mampu mengelah kan seluruh penjahat kota Gotham sendirian. Ia tidak mungkin mampu melawan Joker, Penguin, Iceman, The Riddler, Two Faces sendirian. Ia butuh bantuan masyarakat Gotham. Agar nanti setelah Batman tidak ada lagi, masyarakat Gotham tetap memiliki keinginan untuk menumpas kejahatan.
a. Fase Pendekatan
Fase pendekatan ini sendiri akan dibagi menjadi pendekatan terhadap anak-anak dan orang tua. Menggunakan metode pendekatan top-down dan bottom-up secara parallel, agar eskalasi dan aselerasi progressnya dapat berlangsung dengan cepat.- Pendekatan ke anak-anak (Bottom-Up)
- Pendekatan ke orang tua (Top-Down)
Masyarakat Gelap Nyawang suka mengadakan kumpul rutin hanya untuk sekedar main bola bersama dan kerja bakti. Sehingga kita akan mengadakan kegiatan kumpul ‘Ngariung’ rutin, untuk mendengar permasalahan yang mereka hadapi. Metode lainnya yaitu kerja bakti, pengajian, dan kunjungan warung.
Warga Gelap Nyawang memang sudah memiliki jadwal kerja bakti, dan kita tinggal ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Untuk pengajian, akan dilakukan koordinasi dengan Salman. Asrama putra dan asrama putri Salman akan ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan pengajian.
Kunjungan warung ini akan dilakukan minimal dua minggu sekali, dengan masing-masing warung memiliki penanggung jawabnya.
Fase pelatihan akan dilakukan setelah fase pendekatan selesai yaitu kira-kira bulan Desember. Pelatihan yang akan diadakan adalah sanitasi, kewirausahaan, dan kreativitas memasak.
Pada pelatihan sanitasi akan ditekankan pentingnya kebersihan dalam menjalani usaha kuliner. Dalam pelatihan kewirausahaan akan dibangun sense entrepreneurship warga agar mereka memiliki inovasi dalam menjalankan usahanya. Sedangkan pelatihan kreativitas memasak tujuannya adalah untuk memicu kreatifitas pedagang untuk menciptakan menu makanan baru, serta mengetahui teknik yang benar dalam memasak. Ketiga pelatihan ini akan memakai system raport yang akan dikontrol setiap minggunya oleh orang yang telah berpengalaman. Kemudian puncak dari pelatihan yang telah diberikan adalah festival makanan Gelap Nyawang yang akan diadakan pada bulan Maret. Untuk memicu perkembangan positif dari masing-masing warung, hanya warung dengan nilai raport bagus yang bisa mengikuti festival makanan.
Dan untuk himpunan yang sulit melakukan pengabdian masyarakat dengan basis keprofesiannya, akan dibuat suatu system yang akan memungkinkan mereka membantu para pedagang Gelap Nyawang dengan modal yang mereka miliki.
Fase pembangunan fisik akan dilakukan bekerja sama dengan berbagai pihak. Misalnya untuk memperbaiki drainase, diperlukan partisipasi dari HMTL, untuk lay-out tata letak IMA-G dan KMSR, untuk masalah penerangan HME.
Selain partisipasi himpunan, dukungan dari berbagai pihak yang peduli terhadap perkembangan Gelap Nyawang sangat diperlukan.
Akhirnya program ini tidak akan berjalan dengan baik, jika tidak adanya kekonsistenan dari masing-masing pihak, baik tim PM-Gelap Nyawang maupun dari pedagang itu sendiri. Dan untuk menghasilkan Gelap Nyawang yang mandiri dan kreatif membutuhkan waktu yang tidak singkat, dan harus berkelanjutan.
“Dari sekian banyak orang yang melihat apel jatuh, cuma Newton yang bertanya kenapa.Dari sekian banyak orang yang melihat masalah, cuma kalian yang bertindak nyata.”
- Mentri Pengabdian Masyarakat KM ITB 08/09-
Langganan:
Postingan (Atom)














